Aristocratic Code

Saya lagi baca buku “Bobos in Paradise: The New Upper Class and How They Got There”. Bukunya seru banget, tentang generasi baru Amerika Serikat yang naik kelas sosial berdasarkan meritokrasi, bukan dari garis keturunan bangsawan. Di salah satu halaman buku ini, ada kutipan dari Edmund Burke, politisi dan negarawan Irlandia, dari buku “An Appeal from the New to the Old Whigs“. Kutipannya itu tentang code of conduct dari para aristokrat Irlandia jaman dulu. Ini kutipan itu:

To be bred in a place of estimation;
to see nothing low and sordid from one’s infancy;
to be taught to respect one’s self;
to be habituated to the censorial inspection of the public eye;
to look early to public opinion;
to stand upon such elevated ground as to be enabled to take a large view of the widespread and infinitely diversified combinations of men and affairs in a large society;
to have leisure to read, to reflect, to converse;
to be enabled to draw the court and attention of the wise and learned, wherever they are to be found;
to be habituated in armies to command and to obey;
to be taught to despise danger in the pursuit of honor and duty;
to be formed to the greatest degree of vigilance, foresight, and circumspection, in a state of things in which no fault is committed with impunity and the slightest mistakes draw on the most ruinous consequences;
to be led to a guarded and regulated conduct, from a sense that you are considered as an instructor of your fellow citizens in their highest concerns, and that you act as a reconciler between God and man;
to be employed as an administrator of law and justice, and to thereby among the first benefactors to mankind;
to be a professor of high science, or of liberal and ingenuous art;
to be amongst rich traders, who from their success are presumed to have sharp and vigorous understandings, and to possess the virtues of diligence, order, constancy, and regularity, and to have cultivated an habitual regard to commutative justice:

these are the circumstances of men that form what I should call a natural aristocracy, without which there is no nation.

Setelah membaca ini, saya jadi ingat tentang golongan darah biru di Indonesia. Sejauh mana para bangsawan, sultan, raden, raja, pangeran, atau apapun itu gelar kebangsawanan mereka, terdapat sejenis code of conduct, atau batasan-batasan kualitas tentang mengapa, dan untuk apa keberadaan seorang bangsawan?

Jujur aja, saya iri sama Irlandia yang punya aristocratic code sehebat ini.

Protected: Save your last dance for me

This post is password protected. To view it please enter your password below:

Tentang Inside Job dan EkoPol

Kemarin saya nonton Inside Job. Filmnya lumayan seru, tentang Political Economy di financial industry paling powerful di dunia: Amerika Serikat. Topik yang dibahas spesifik tentang hubungan tiga serangkai ABG (Academic – Business – Government) dalam kaitannya ke krisis finansial 2008.


(image: comingsoon.net)

Di film itu dibahas gimana peran tokoh-tokoh di tiga bidang itu buat mendorong krisis yang ternyata menguntungkan buat orang-orang kaya dan mematikan buat orang-orang miskin. Para manajer investasi dari Merryl Lynch, CitiGroup, Goldman Sachs, dll yang sebenernya bertanggung jawab ternyata bebas dari hukuman, malah dapet bonus waktu mereka resign. Tapi orang-orang yang engga tau apa-apa kena dampaknya, mulai dari lapangan kerja yang tiba-tiba hilang, lay off besar-besaran, harga saham jatuh, dll. Para eksekutif dari perusahaan-perusahaan investasi itu bisa dibayar pesangon USD 60-90 juta dari dana pemerintah yang sebenernya dari dana pajak, alias dana rakyat.

Itu dari pelaku bisnis. Kalo peran dari pemerintah AS adalah pengangkatan orang-orang bisnis itu ke jabatan-jabatan penting di pemerintahan. Orang-orang itu misalnya Ben Bernanke dan Henry Paulson yang sebelumnya otak dari gelombang krisis itu justru diangkat jadi kepala Federal Reserve. Pemerintah AS juga “diserbu” orang-orang dari dunia bisnis. Satu senat di kongres dideketin sama 5 lobbyist dari Wall Street buat pengaruhin kebijakan biar lebih pro bisnis.

Nah, ternyata dari kaum Academics juga termasuk. Para ekonom dari beberapa kampus ivy league ternyata juga konsultan kebijakan pemerintah plus senior executives dari perusahaan-perusahaan investasi rakus itu. Hasilnya, seperti yang dibilang sama Dominique Strauss Kahn, Managing Director IMF:

“As usual, the poor will always the one who pay the most”.

Mereka, yang ada di kelas sosial bawah, harus  rela jadi yang paling menderita. Di Indonesia juga begini kejadiannya.

Eh tapi bukan itu poinnya. Apa yang saya mau bilang adalah bahwa film ini bikin saya tertarik lagi sama apa yang dulu suka saya gali, tentang Ekonomi Politik. Kalo kata Robert Babe, Ekonomi Politik adalah tentang relasi kekuasaan yang mempengaruhi produksi, distribusi dan konsumsi kekayaan, pendapatan dan sumber daya -termasuk sumber daya berupa informasi dan komunikasi.

Saya sih tidak tahu apa gunanya saya baca-baca tentang Ekonomi Politik. Thesis saya sepertinya tidak akan menyinggung tentang itu. Bidang ilmu tentang Ekonomi Politik juga sepertinya akan berorientasi untuk menjelaskan atau membongkar fenomena yang terjadi, bukan untuk sebagai panduan bagi fenomena yang akan datang.

Tapi entahlah. Seperti saya suka banyak hal lain yang tidak relevan, misalnya, folklores, mitologi dan sebagainya, seperti itu juga saya suka Ekonomi Politik. Pastinya dalam kaitan ke media studies / cultural studies.

(image: polemarchus.wordpress)

Terakhir, buat nutup tulisan nanggung ini, saya inget kutipan dari Pramudya Ananta Toer: Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan (Bumi Manusia).

Ck… semoga bisa.

Old Projects

Decision making should rely on principal reasons, not practical reasons. Practical reasons may open new doors and opportunities, but principal reasons are the better foundation, especially when dealing with uncertainties.

This made me think to go back to some old projects that have been abandoned, and some topics that have been left out for a few months back. And some books that i havent read.

Sigh… we change a lot, do we? And we’re doing it so fast that sometimes, we often amazed and confused at the same time.

A letter for you, from me

I don’t know who you are. I don’t know if, at this time, we have met or not. I tried to figure out your face, your body, your scent, but i have no idea at all.

The only thing i know at this time, is that i’m preparing everything for you. You know… college, savings, life skills… that kind of stuffs.

I barely know you. But you know what… i love you already. I love you already, my future wife. I don’t know who you are, but you are the reason of the choices i made today.

Sincerely,

Reney, 2011

Tentang Makanan

Video ini jelasin tentang masalah obesitas yang makin sistemik di AS. Ini termasuk:

1) brand-brand gede yang bikin strategi pemasaran + pengembangan produk mereka jadi semakin customer oriented dan semakin bikin orang jadi gendut & ga sehat. Misal: kadar gula di susu makin lama makin tinggi.

2) anak-anak dikelilingin makanan ga sehat (tapi enak banget) dimana-mana: main streets, school, house. Hasilnya, anak2 jadi makin tergantung sama makanan ga sehat.

3) anak-anak juga dipengaruhin ortu mereka yang tergantung sama makanan ga sehat. Anak-anak sekarang punya umur harapan hidup 10 tahun lebih sedikit daripada ortu mereka. Itu karena mereka sendiri termasuk generasi ketiga dari sejak tren obesitas yang mulai muncul. Itu berarti udah ada 2 generasi sebelumnya yang bikin sistem lifestyle yang ngedukung obesitas.

Hasilnya, ada anak 16 tahun udah divonis umurnya tinggal 6 tahun lagi karena obesitas. Orang2 makin banyak mati karena kegemukan.

Oke, saya bukannya sotoy… tapi saya ga mau anak saya nanti obesitas. Saya mau sehat + punya gaya hidup sehat, biar nanti saya sama keluarga saya mati tua karena emang harus mati, bukan karena kebanyakan kolesterol.

Maka dari itu, ada beberapa rencana saya biar tetep sehat:
1) diet, makan secukupnya, kurangin gula/ dll dll yg ga sehat
2) belajar masak (biar ga tergantung sama orang lain)

PS: video yang ditampilin itu dari TEDX.  Bagus videonya. Nonton ya :)

This is exactly why waiting can be very fun

Serendipity is not just about luck. Its about seeing things that others cant see… about connecting the dots in a way that others cant imagine before.

For me, its about waiting for the right moment, and about being a guy that fits for that moment. I may not be complete right now… but thats ok. No worry.

I know that someday, what i got will worth the waiting. That by becoming someone special, i could attract someone special.

This is exactly why waiting can be very fun.