Mengejar mimpi itu berarti memainkan pertandinganmu sendiri. Jalan di jalurmu sendiri. Melihat dengan caramu sendiri. Mengambil kendali atas hidupmu sendiri.

Mengejar mimpi itu akan membuatmu merasa kesepian, karena tidak semua orang akan selalu ada di jalur yang sama denganmu. Kamu akan keluar dari kerumunan. Kamu akan terpisah dari yang lainnya.

Kamu akan makan malam bersama teman-teman terdekatmu, memesan menu favoritmu, membicarakan hal-hal yang sedang terjadi, gadget apa yang sedang tren, tentang apa yang dilakukan orang2 terdekatmu, tapi kamu akan tahu, bahwa itu semua hanya sementara.

Kita akan tertawa, makan sampai kekenyangan, jalan sampai kepayahan, tapi tidak selamanya. Kita akan berlari masing-masing. Membawa beban kita masing-masing. Diuji dengan ukuran-ukuran kita masing-masing. Itu karena masing-masing dari kita, sebelum lahir, diberi label tentang apa yang akan kita lakukan… tentang peran-peran unik yang tidak bisa diganti oleh orang lain.

Bermimpi, apalagi mengejar mimpi, adalah berarti berani menanggung kesepian. Terlalu kesepian, sampai-sampai hanya Tuhan yang bisa menemanimu. Dan hal yang bisa kamu lakukan adalah berharap, bahwa suatu saat, Pencipta Ruang dan Waktu bisa menundukkan ruang dan waktu, dan membuat mimpi-mimpi yang kalian kejar, saling bersinggungan satu sama lain, untuk suatu tujuan yang jauh lebih besar dari apapun yang bisa kita pikirkan.

> untuk semua yang mengejar mimpi, dan dalam pengejarannya itu, berhadapan dengan Tuhan <

(this is a self help writing, for my own problem, in my own blog. Its not worth to be followed)

The drama of daily life seems to be not helpful. Current issues seems to be worthless news. The problems, the success, and all new things in life seems to be add nothing to your idea bucket. You tried.. and tried… and tried…. and nothing seems to be make sense. You opened your Microsoft OneNote page, or Word, or even Notepad, the very same step you took when you want to write something. But again, everything seems to be useless.

This is writer’s block. Or in this case, blogger’s block. You became unable to write anything worth read. Or at least, you assume to be worth read. This is what exactly what i feel right now.

Maybe you feel it too. Maybe you think that all the idea in the world has gone, hiding in the middle of nowhere. Well, this is what i feel.. and what i want to share right now. And this are what i assume could be a  solvent:

1. Problem

Maybe this because you have a problem. Maybe you occupied with bills, housing rent, stress from job, or else. Take a minute-or an hour, to think about yourself. How’s this month been going so far? How’s job? What about your family? Do you think you have succeed you monthly goals? Or actually, deep inside you heart, you think that you’ve failed? That your life isn’t one that you wanted. Or something wrong with your spouse that sucked up your energy.

If this is your problem, there are some things that can be done:

> write your problem

Write your problem. Make yourself the star of your own novel. Start your new adventure – though its just inside your head. Make writing a self-help therapy. Treat your problem as an inspiration.

> find your problem, and deal with it

Through the reflection moment, you will find out the problems. You will notice what you’ve been hiding from others, and also from yourself. Deal with it. Maybe, writer’s block -or blogger’s block, is a sign that something wrong with your mind and soul.

2. Boredom

If there main problem is just some boredom, then first, you should admit it. Admit that you bored with writings. Admit that poems and movie quotes are not attractive again. Admit that you bored with those fake inspirations; because they’re just commodity to meet the demands of mass market. Or maybe, admit that you’ve been reading, watching, and listening too much, that you feel that nothing satisfy you anymore.

Stop reading books. Stop listening good music. Stop watching good films. Just think. And write. Maybe, too much input will make you confuse what to write.

3. The Past

Stop underestimate and overestimate yourself. If you wrote a good piece in the past, throw it away to the dirtiest garbage can. And if you wrote a piece of junk, praise yourself for writing an honest work, and a great start. Don’t be occupied with the past.

Well, this is all i can come up now. Bless me.

2010.

Di akhir 2009, saya banyak merencakan. Banyak membuat resolusi. Banyak mengatur ini itu.

Baru seminggu masuk ke 2010, saya sudah merasa semua rencana itu basi. 2010 itu jauh diluar pemikiran saya. Semuanya tidak akan sama lagi. Dan semua rencana yang saya buat itu sudah usang. Saya jadi ingat kata-kata John Lennon (kalau tidak salah): “life is what happen to us when we’re busy making plans“.

The future is white. Plain white.

Saya selalu mengira kata-kata “gaudeamus igitur” itu artinya sesuatu yang agung. Apapun itu artinya, pastilah tentang sesuatu yang mulia, yang benar… pokoknya yang hebat dan terkesan “pintar”. Lagipula, saya pertama kali mendengar lagu gaudeamus igitur itu saat penerimaan mahasiswa sekaligus acara wisuda di UI.

Empat tahun setelah saya pertama kali dengar lagu itu, saya dengar lagi. Di acara yang sama: wisuda, sekaligus penerimaan mahasiswa baru. Kalau dulu saya dengar sebagai mahasiswa baru, sekarang saya dengar sebagai mahasiswa yang diwisuda.

Dan kesan saya sama: itu adalah lagu agung pengiring kedatangan rektor beserta dekan dan pejabat universitas lainnya.

Setelah saya cari info mengenai lagu itu, ternyata isinya berbeda sekali dengan harapan saya. Lagu itu bukan lagu dengan kata-kata agung dan “pintar” atau “jenius” khas professor. Gaudeamus igitur itu sendiri artinya bukan “belajarlah dengan keras”, atau sejenisnya. Kata-kata “gaudeamus igitur” itu  ternyata artinya “marilah kita bersenang-senang”.

Dan judul lagu itu adalah “dalam singkatnya kehidupan” (De Brevitate Vitae).

Saya ternyata salah. Para rektor itu ternyata kumpulan orang-orang yang lucu dan santai. Bayangkan, saat upacara wisuda, saat mereka semua datang ke ruangan, mereka disambut dengan kata-kata “mari bersenang-senang”. Lepaskan gambaran rektor sebagai orang tua berkacamata yang agung dan pintar. Lekatkan kata rektor dengan gambaran orangtua yang gendut dan selalu tertawa, sambil memegang bir dan menepuk bahu kita dengan kata-kata “ayo kita bersenang-senang, nak! Ho.. ho.. ho!”

Saya merasa ditipu. Saya selama ini sepertinya terlalu serius. Ternyata hidup ini bukan (hanya) perlombaan “siapa dapat mainan paling banyak” ala Rat Race, tapi lebih kepada sebuah pesta besar. Hidup ini bukan acara orang-orang susah yang berburu sesuatu demi menyambung hidup dan menyombongkan diri didepan orang-orang lain, tapi lebih kepada sebuah perayaan besar. Perayaan atas eksistensi diri kita di dunia. Perayaan bahwa kita ada, bernafas, bergerak, tanpa henti sampai saat yang kita tidak tahu. Sebuah perayaan akan kehidupan!

Saya hidup. Kamu hidup. Kita hidup. Dan karena kita tidak hidup selamanya, marilah kita merayakannya. Itulah spirit dari lagu Gaudeamus Igitur.

Saya butuh waktu sebentar untuk benar-benar mengerti semangat ini. Saya pikir hidup itu harus serius. Pakaian itu harus rapi. Omongan harus diatur. Tetapi saya lupa. Dunia ini bukan sebuah sekolah yang ketat. Bukan sebuah lomba lari, dimana yang menang dapat semua, dan yang kalah dibuang. Dunia itu sebuah kantin di waktu istirahat sekolah. Sebuah resepsi.

Bersenang-senanglah!

Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus.
Post jucundam juventutem
Post molestam senectutem
Nos habebit humus.

Mari kita bersenang-senang
Selagi masih muda.
Setelah masa muda yang penuh keceriaan
Setelah masa tua yang penuh kesukaran
Tanah akan menguasai kita.

Ubi sunt qui ante nos
In mundo fuere?
Vadite ad superos
Transite in inferos
Hos si vis videre.

Kemana orang-orang sebelum kita
Yang pernah hidup di dunia ini?
Terbanglah ke surga
Terjunlah ke dalam neraka
Bila kau ingin menjumpai mereka

Vita nostra brevis est
Brevi finietur.
Venit mors velociter
Rapit nos atrociter
Nemini parcetur.

Hidup kita sangatlah singkat
Berakhir dengan segera
Maut datang dengan cepat
Merenggut kita dengan ganas
Tak seorang pun mampu menghindar

Vivat academia!
Vivant professores!
Vivat membrum quod libet
Vivant membra quae libet
Semper sint in flore.

Panjang umur akademi!
Panjang umur para pengajar!
Panjang umur setiap pelajar!
Panjang umur seluruh pelajar!
Semoga mereka terus tumbuh berkembang!

Vivant omnes virgines
Faciles, formosae.
Vivant et mulieres
Tenerae, amabiles
Bonae, laboriosae.

Panjang umur para gadis!
Yang sederhana dan elok
Juga, hidup para wanita!
Yang lembut dan penuh cinta
Jujur, pekerja keras

Vivant et res publica
et qui illam regit.
Vivat nostra civitas,
Maecenatum caritas
Quae nos hic protegit.

Hidup negaraku!
Dan pemerintahannya
Hidup kota kami!
Dan kemurahan hati para dermawan
Yang telah melindungi kami

Pereat tristitia,
Pereant osores.
Pereat diabolus,
Quivis antiburschius
Atque irrisores.

Enyahlah kesedihan
Enyahlah kebencian
Enyahlah kejahatan
Dan siapa pun yg anti mahasiswa
Juga mereka yang mencemoh kami

Saya baru saja mengingat-ingat beberapa kejadian yang belakangan saya alami. Dalam beberapa detail kejadian-kejadian tersebut, saya baru sadar bahwa ternyata kalau diperhatikan, banyak sekali hal yang saya bisa bilang sebagai: God’s fingerprint [saya lebih suka pakai istilah God's fingerprint, karena kalau "sidik jarinya Tuhan" agak kurang enak didengar].

God’s fingerprint itu seperti jejak-jejak tersembunyi, yang akan nyata kalau kita benar-benar memperhatikan detail-detail kejadian dalam hidup kita. Itu mungkin awalnya tidak nyata, atau tidak jelas. Tapi kamu bisa dengan mudah melihatnya dari banyak hal: apakah itu pertemuan dengan orang baru, kejadian yang tidak disangka-sangka, hal yang awalnya buruk, lalu ternyata baik… dan sebagainya.

God’s fingerprint itu buat saya adalah detail kejadian-kejadian kecil, yang membuat kita terusik terus: bahwa diantara banyak keraguan, pertanyaan, sanggahan atau apalah, saya ternyata masih bisa lihat banyak hal, kejadian-kejadian yang menunjukkan bahwa: there is someone, beyond me, who’s constantly intervening my life. Kamu, seperti saya, diperhatikan sekali. Dan ada tangan yang menyisakan bekas sidik jari dalam hal-hal terkecil yang ada dalam hidupmu. Dan itu, tentunya, sering luput kita perhatikan.

Saya jadi bersyukur…. dan takut sekali.

“Siapa namanya?”

“Reney, pak”

“Siapa? Ceney?”

“RRRReeeennnneyy, pak (!)”

“Oh.. Reni!”

Itu adalah percakapan wajar yang suka saya temui saat orang pertama kali memanggil nama saya. Saya selalu bermasalah dengan nama. Itulah kenapa saya suka memperhatikan nama-nama orang lain. Beberapa orang dilahirkan dengan nama yang ribet, seperti Adhizzeza Nandra. Well, bukannya apa yah, tapi nama macam apa yang punya 3 kata “Z” hanya dalam satu kata. Itu membuat lidah berdengung saat menyebut namanya.

Coba anda ucapkan “Reeennneyyyy”. Kalau anda mengucapkannya dengan benar, itu akan terasa lancar, seperti turun dari perosotan. Rrreeennneyyy!

Hal lain yang saya perhatikan soal nama adalah bahwa penjara dan tempat ibadah mempunya kesamaan: disana banyak orang-orang dengan nama religius. Dalam kunjungan saya ke penjara dan tempat ibadah, daftar nama napi dan daftar nama pengkotbah selalu membuat saya tersenyum. Dalam daftar nama napi, nama-nama seperti Thomas, Lukas, Yohanes (dan kadang-kadang juga Mohammad, Abdullah) dll itu banyak ditemui.Mereka rata-rata mencuri dan merampok. Ada beberapa yang pakai kekerasan.

Kecenderungan penggunaan nama religius itu persis seperti di tempat ibadah.

Well, ini sama sekali bukan tentang agamanya sih, tapi tentang orangnya. Dan tentang nama-nama mereka.

Saya jadi berpikir, mungkin kadang-kadang perlu juga menamakan seseorang dengan nama yang absurd seperti “Adhizzeza Nandra”, lengkap dengan 3 huruf “Z” untuk membuat lidahmu berdengung saat mengucapkannya. Setidaknya, nama absurd seperti itu tidak akan menjadi lucu kalau kamu sedang khilaf mencuri, misalnya.

Atau, kalau kamu tidak suka lidahmu berdengung-dengung, kamu bisa menamakan orang lain dengan nama absurd lain yang lebih bagus:

Reney.

Calendar

February 2010
M T W T F S S
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Blog Stats

  • 3,809 hits

Archives

Categories

Traffic

Ping