Saya selalu mengira kata-kata “gaudeamus igitur” itu artinya sesuatu yang agung. Apapun itu artinya, pastilah tentang sesuatu yang mulia, yang benar… pokoknya yang hebat dan terkesan “pintar”. Lagipula, saya pertama kali mendengar lagu gaudeamus igitur itu saat penerimaan mahasiswa sekaligus acara wisuda di UI.
Empat tahun setelah saya pertama kali dengar lagu itu, saya dengar lagi. Di acara yang sama: wisuda, sekaligus penerimaan mahasiswa baru. Kalau dulu saya dengar sebagai mahasiswa baru, sekarang saya dengar sebagai mahasiswa yang diwisuda.
Dan kesan saya sama: itu adalah lagu agung pengiring kedatangan rektor beserta dekan dan pejabat universitas lainnya.
Setelah saya cari info mengenai lagu itu, ternyata isinya berbeda sekali dengan harapan saya. Lagu itu bukan lagu dengan kata-kata agung dan “pintar” atau “jenius” khas professor. Gaudeamus igitur itu sendiri artinya bukan “belajarlah dengan keras”, atau sejenisnya. Kata-kata “gaudeamus igitur” itu ternyata artinya “marilah kita bersenang-senang”.
Dan judul lagu itu adalah “dalam singkatnya kehidupan” (De Brevitate Vitae).
Saya ternyata salah. Para rektor itu ternyata kumpulan orang-orang yang lucu dan santai. Bayangkan, saat upacara wisuda, saat mereka semua datang ke ruangan, mereka disambut dengan kata-kata “mari bersenang-senang”. Lepaskan gambaran rektor sebagai orang tua berkacamata yang agung dan pintar. Lekatkan kata rektor dengan gambaran orangtua yang gendut dan selalu tertawa, sambil memegang bir dan menepuk bahu kita dengan kata-kata “ayo kita bersenang-senang, nak! Ho.. ho.. ho!”
Saya merasa ditipu. Saya selama ini sepertinya terlalu serius. Ternyata hidup ini bukan (hanya) perlombaan “siapa dapat mainan paling banyak” ala Rat Race, tapi lebih kepada sebuah pesta besar. Hidup ini bukan acara orang-orang susah yang berburu sesuatu demi menyambung hidup dan menyombongkan diri didepan orang-orang lain, tapi lebih kepada sebuah perayaan besar. Perayaan atas eksistensi diri kita di dunia. Perayaan bahwa kita ada, bernafas, bergerak, tanpa henti sampai saat yang kita tidak tahu. Sebuah perayaan akan kehidupan!
Saya hidup. Kamu hidup. Kita hidup. Dan karena kita tidak hidup selamanya, marilah kita merayakannya. Itulah spirit dari lagu Gaudeamus Igitur.
…
Saya butuh waktu sebentar untuk benar-benar mengerti semangat ini. Saya pikir hidup itu harus serius. Pakaian itu harus rapi. Omongan harus diatur. Tetapi saya lupa. Dunia ini bukan sebuah sekolah yang ketat. Bukan sebuah lomba lari, dimana yang menang dapat semua, dan yang kalah dibuang. Dunia itu sebuah kantin di waktu istirahat sekolah. Sebuah resepsi.
…
Bersenang-senanglah!
…
Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus.
Post jucundam juventutem
Post molestam senectutem
Nos habebit humus.
Mari kita bersenang-senang
Selagi masih muda.
Setelah masa muda yang penuh keceriaan
Setelah masa tua yang penuh kesukaran
Tanah akan menguasai kita.
Ubi sunt qui ante nos
In mundo fuere?
Vadite ad superos
Transite in inferos
Hos si vis videre.
Kemana orang-orang sebelum kita
Yang pernah hidup di dunia ini?
Terbanglah ke surga
Terjunlah ke dalam neraka
Bila kau ingin menjumpai mereka
Vita nostra brevis est
Brevi finietur.
Venit mors velociter
Rapit nos atrociter
Nemini parcetur.
Hidup kita sangatlah singkat
Berakhir dengan segera
Maut datang dengan cepat
Merenggut kita dengan ganas
Tak seorang pun mampu menghindar
Vivat academia!
Vivant professores!
Vivat membrum quod libet
Vivant membra quae libet
Semper sint in flore.
Panjang umur akademi!
Panjang umur para pengajar!
Panjang umur setiap pelajar!
Panjang umur seluruh pelajar!
Semoga mereka terus tumbuh berkembang!
Vivant omnes virgines
Faciles, formosae.
Vivant et mulieres
Tenerae, amabiles
Bonae, laboriosae.
Panjang umur para gadis!
Yang sederhana dan elok
Juga, hidup para wanita!
Yang lembut dan penuh cinta
Jujur, pekerja keras
Vivant et res publica
et qui illam regit.
Vivat nostra civitas,
Maecenatum caritas
Quae nos hic protegit.
Hidup negaraku!
Dan pemerintahannya
Hidup kota kami!
Dan kemurahan hati para dermawan
Yang telah melindungi kami
Pereat tristitia,
Pereant osores.
Pereat diabolus,
Quivis antiburschius
Atque irrisores.
Enyahlah kesedihan
Enyahlah kebencian
Enyahlah kejahatan
Dan siapa pun yg anti mahasiswa
Juga mereka yang mencemoh kami



Recent comments