Protected: 7-15-15-4-2-25-5

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Timeline: Evolusi Topik Bacaan

Dunia berubah cepet banget. Saya (kayaknya sih) juga iya. Ini perubahan topik bacaan saya dari waktu ke waktu.

SD-SMP-SMA
Saya baca majalah-majalah olahraga kayak Bola, Majalah Liga Italia, sama Sportif. Sejak SMP saya mulai SUKA BANGET sama tim bola dari Serie A Italia, Juventus. Sejak SMA saya mulai baca buku-buku self development sejenis The 7 Habit of Highly Effective Individuals. Sejak itu saya mulai track down buku-buku John Maxwell.

Saya juga mulai baca buku yang tipenya religiusitas gitu, tapi bukan yang tentang “bagaimana meningkatkan religiusitas anda“, tapi lebih ke yang “bagaimana menambah pengetahuan gak penting anda tentang religiusitas“. Contohnya buku jenis ini adalah The Bible Code (tentang ayat2 Alkitab yang entah gimana ternyata meramal masa depan).

Saya baca buku karena penasaran aja, bukan karena saya tergolong pintar. Saya samasekali bukan tipe anak pinter gitu yah kalo di kelas. Saya selalu masuk kelas non-unggulan di SMA.

Kuliah S1
Tahun pertama
Saya mulai suka sama novel. Entah kenapa dulu di peer group saya ada tren “mereka yang membaca novel impor adalah anak keren”. Karena saya ingin keren, jadilah saya membaca beberapa, misal: The Alchemist, The Fifth Mountain, sama To Kill a Mockingbird.

Tahun kedua
Di tahun kedua saya enggak inget sudah melakukan apa yang layak diingat.

Tahun ketiga
Saya ketemu situs-situs sumber ebook gratis. Nah dari sini saya mulai banyak baca nonfiksi impor. Tapi sebenernya yang paling berkesan itu pas saya mulai obsessed sama Paulo Coelho. Saya hampir baca semua bukunya, kecuali By The River Piedra I Sat Down And Wept, sama Eleven Minutes. Selain itu saya udah baca semua: The Fifth Mountain, Devil and Miss Prym, Brida, Veronica Decides to Die, The Alchemist.

Soal majalah, selama kuliah saya berusaha suka sama majalah-majalah yang kata orang sih berkualitas, misal kayak: TIME, NatGeo, Tempo, etc. Tapi jujur aja, saya gak suka bacanya. Udah berkali-kali saya beli dan pinjem, tapi samasekali gak saya baca.

Tahun keempat
Saya paling-paling cuma baca tentang bahan skripsi.

Awal-awal kerja
Pas jaman mulai kerja, saya mulai suka sama beberapa penulis nonfiksi, misal: Chris Anderson, Malcolm Gladwell. Kalo dari genre fiksi, saya mulai suka sama penulis-penulis klasik macam Antoine de Sant Exupery. Kalo penulis yang rada kontemporer saya suka Jhumpa Lahiri sama Haruki Murakami.

S2
Entah kenapa, saya jarang sekali baca fiksi. Saya amat sangat jauh lebih sering baca-baca buku nonfiksi. Dan makin lama saya makin geek. Sekarang ini saya lagi suka sama Daniel Goyle, Mihaly Csikszentmihalyi. Oh, satu dari sedikit penulis fiksi yang saya suka sekarang itu adalah Nury Vittachi.

Soal majalah, sekarang saya suka banget sama majalah yang topiknya ke bidang Ekonomi/ Inovasi/ Bisnis. Kalo di Indonesia, saya suka Warta Ekonomi. Kalo luar, saya suka Fast Company, Entrepreneur, sama Business Insider.

Demikian. Entah nanti kedepannya gimana. Klik disini kalo mau nyambung ke akun Goodreads saya.

Ngomongin Duit

Makin tua kita makin banyak mikir soal uang. Beberapa temen dulunya cari bidang pekerjaan berdasarkan yang disukai, tapi lama-lama pindah ke bidang yang lebih menjanjikan. Banyak juga yang mulai mikirin investasi, tabungan, dll. Yaaa… wajar, karena temen-temen saya, termasuk saya, semuanya mid twenties, yang rata-rata baru 1-3 tahun kerja.

Saya juga mulai banyak mikirin soal uang. Ini saya mau posting rencana keuangan saya. Saya posting di blog biar ada yang merespon, karena soal ngatur uang banyak banget sisi menariknya. Beberapa detail keputusan soal uang itu banyak yang seru buat dibahas, misal: mending beli rumah lebih awal atau tunggu dulu? Beli rumah lebih awal bisa dapet harga lebih murah, tapi beli rumah belakangan bisa dapet yang lebih bagus karena asumsinya tingkat kesanggupan kita akan naik juga. How? Seru kan. Ya udah, intinya, ini rencana finansial saya. Disini gak akan terbuka soal nominal uangnya, cuma akan jelasin soal ide/ rencananya. Versi detailnya cuma ada di laptop saya hehehehe…

Short Term Plan
- Buka tabungan yang bisa auto debet setiap bulan.
Kira-kira Rp xxx ribu sebulan (2011)
- Apply kartu kredit, tapi GA DIPAKE (2011)
- Nabung buat beli motor baru

Mid Term Plan
- Ikut asuransi diluar asuransi kantor
(Rp xxx ribu per bulan, 2012/2013)
- Siapin dana beli rumah
(DP +- Rp xx jt & KPR Rp x jt/ bulan, buat 10 tahun, 2015)
- Siapin dana nikahan (+- Rp xx juta, 2014)
(Malu kalo nikahan harus fully disupport ortu. Jumlah ini
udah kira-kira 75% total biaya nikah)
- Siapin dana beli mobil (DP +- Rp xx juta, 2017)
- Punya tabungan contingency fund min 3 bulan biaya hidup
(contigency fund= dana darurat buat sakit dll)
- Punya kebiasaan nabung emas per 6 bulan sekali

Long Term Plan
- Siapin dana buka bisnis ternak baru (Rp xx juta, 2021)
- Siapin dana buat pensiun umur 58 dan tetap bisa
self support (ada tabungan yang dari bunganya bisa
self support; bisnis yang udah running 23 tahun; asuransi)
- Siapin dana buat tinggalin warisan yang bisa jamin
keluarga setelah meninggal (deposito yang bunga perbulannya
bisa bayar biaya hidup; asuransi; bisnis ternak;
asumsi meninggal umur 75)

Implementation
- Dana nikahan Rp xx juta, ditabung 3 tahun dari sekarang
- Dana beli rumah DP + - Rp xx juta + KPR,
ditabung 4 tahun dari sekarang
- Dana beli mobil DP + - Rp xx juta + kredit,
ditabung 3 tahun dari sekarang

*PS: Saya engga tau kenapa layoutnya jadi gini
**Jumlah ini masih belom ngitung kenaikan harga & inflasi

Hasil Googling Keyword “Content”

Pungguk merindukan bulan, kyaaa

Bener deh, saya penasaran banget pengen kuliah diluar. Entah S2 lagi atau S3, terserah deh yang penting 1) bidangnya yang berkaitan ke new media 2) sifatnya interdisipliner 3) kalo bisa lebih berat ke applied science, dan sebaiknya bisa ngedorong pengetahuan yang dipunyai biar ujung-ujungnya kalo bisa makin deket ke jawaban “How To”.

Pungguk merindukan bulan?

Protected: Save your last dance for me

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Best Trait

Saya pikir-pikir, kelebihan saya yang paling kuat itu bukan karena saya pinter, ganteng, dominan, ato apapun yang berkaitan dengan diri saya sendiri. Ironisnya, kelebihan saya yang paling kuat itu adalah saya bagus di kerja tim. Dari dulu begitu. Entah saya harus step down dan jadi pendengar/ bawahan yang baik, atau kadang-kadang harus step up dan ambil inisiatif.

Mungkin karena saya aslinya orang SC (Steady – Compliance) yang nyaman dipimpin, tapi karena through time & many struggles, saya belajar banget jadi DI (Dominance – Influencing).

Hasilnya, saya lebih nyaman sama orang yang bisa berbagi peran juga. Itu mungkin juga jadi alesan kenapa saya pikir nanti kalau saya menikah, saya akan jadi orang yang terus ngedorong karir istri. Dari dulu saya begitu ke pacar… hehehe. Saya ternyata bagus jadi “the man behind”. Saya akan nyaman nempatin istri tepat di sebelah saya buat jadi partner sejajar, susah-senang bareng. Bayangan saya, kita bakal jadi pasangan super sibuk yang juggling between many social roles while at the same time sharing many home-related tasks. Dengan cara itu mudah-mudahan kita sama-sama punya banyak hal buat dipelajarin dan dikerjain bareng. Istri bisa tetep punya kehidupan sosial dan tetep produktif sambil perhatiin anak sama rumah. Saya bisa tetep belajar kerjain kerjaan rumah ato urus anak sambil kerja.

Itu juga kenapa saya susah nyambung saya orang yang totally bersikap DI atau SC tanpa bisa switch. Dan itu juga kenapa saya cari cewek pinter; bukan cuma pinter dalam hal academic achivement atau karir, tapi pinter dalam hal role playing. Lagian, social norms made for the sake of man, not man for the sake of social norms kan. Oke, sekarang cari pacar ah.