You are currently browsing the monthly archive for June, 2008.
Menurutmu, apakah manusia pada dasarnya baik atau buruk? Apakah manusia mempunyai pilihan penuh atas hidupnya, atau ia hanyalah budak dari dirinya sendiri?
Apakah semua orang akan bertindak sama jika berada pada situasi dan kondisi yang benar-benar mirip? Katakanlah, apakah semua orang akan korupsi jika berada pada situasi dan kondisi yang sama seperti yang dihadapi oleh para koruptor?
Bayangkan seperti ini : sebuah birokrasi yang korup, yang memandang tak berdosa jika ada suap-menyuap; atasan dan bawahan yang semua korup, yang membuat pencurian menjadi hal biasa. Bayangkan sebuah lingkungan dimana semua berpesta pora dari hasil korupsinya. Bayangkan sebuah kondisi dimana jabatan dan lingkungan bisa menelan bulat-bulat barang bukti yang mungkin dapat melawan. Bayangkan sebuah kesempatan untuk membeli hadiah baru untuk istri. Bayangkan sebuah pemasukan instan entah dari mana-anggaplah bonus- untuk membiayai kuliah anak di luar negeri. Dan lagi, yang terpenting, anggaplah uang itu, sebagai bonus dari kerja kerasmu. Bagaimanapun juga, negara miskin ini harus menghargai segala sumbangsih dan bakti tulusmu yang tak kenal lelah buat bangsa ini, kan? Bagaimapun, pilihanmu untuk mengabdi bagi negara ini harus dihargai. Dan uang korupsi, eh, bonus itu adalah bukti nyata balas jasa bagi jerih payahmu. Bukan begitu?
Bagaimana?
Jika semua orang akan mengambil kesempatan itu, berarti benar bahwa semua orang mempunyai kesamaan : pada dasarnya jahat. Dan jika demikian, yang patut dibenahi adalah sistem hukum negara ini. Dan itu berarti memasang cctv di kantor-kantor negara, menghukum para koruptor, menegakkan hukum, dan mempermalukan mereka di media-media.
Tetapi, jika tidak semua orang mempunyai kecenderungan jahat, maka negara telah menempatkan orang-orang yang salah di posisi yang salah. Dan bisa dibilang, triliunan rupiah kerugian negara akibat korupsi selama ini hanyalah masalah tidak mujur saja; karena entah kenapa, yang terpilih jadi amtenaar adalah orang-orang yang tidak jujur.
Sudah kubilang ini absurd.
Oke, saya bukan ahli bahasa. Samasekali bukan. Tetapi, adalah benar bahwa kadang, bahasa adalah alat untuk menunjukkan dominasi pihak berkuasa, kepada pihak yang dikuasai. Ambil contoh bahasa yang dipakai di banyak media di Indonesia ketika mencoba memberitakan sebuah pemerkosaan : “Seorang gadis digagahi di perkebunan…”. Tindakan pemerkosaan dilihat sebagai aksi unjuk gigi si kuat terhadap si lemah. Bahasa kiasan seperti inilah, yang kadang membelokkan makna. Maksud hati ingin memperhalus isi berita, nyatanya malah menyampaikan makna lain selain pemerkosaan.
Hal yang sama juga terjadi pada kasus ”harga disesuaikan”, walaupun frase tersebut sekarang sudah mulai ditinggalkan oleh para praktisi media.
Tetapi, bagaimana dengan istilah ”dari sabang sampai merauke”? Apa yang menjadi dasar pemilihan kata-kata ini? Mengapa ”Sabang” lebih dahulu daripada ”Merauke”?
Jawaban dari semua ini mungkin dapat dilihat dari kenyataan. Sabang adalah representasi dari Indonesia bagian barat. Merauke, tentu saja, adalah representasi dari Indonesia bagian timur. Jelaslah sudah bahwa penduduk Indonesia, dibentuk sedemikian rupa untuk lebih memprioritaskan bagian barat daripada timur. Indonesia timur adalah bagian yang selalu menjadi anak tiri dalam pembangunan nasional, apalagi sebelum jaman reformasi. Indonesia timur selalu menjadi daerah tertinggal dari Indonesia. Pembagian keuntungan, porsi pemberitaan, pembangunan fasilitas, dan sebagainya selalu mendudukkan Indonesia bagian timur di posisi nomor dua.
Padahal, Indonesia adalah timur dan barat. Seperti barat, timur juga memiliki kekayaannya sendiri, sebuah keunikan tak terbantahkan dari Ambon, Maluku, Papua, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan semua pulau-pulau lain di Indonesia bagian timur. Mencoba menganaktirikan Indonesia timur adalah usaha untuk mengamputasi diri sendiri.
Jadi, marilah kita rubah istilah ”dari Sabang sampai Merauke” menjadi ”dari Merauke sampai Sabang”. Toh, matahari terbit terlebih dahulu di timur, kan? Di Merauke.
by Reney Lendy Mosal
.
.
I see Indonesia
in a pair of praying hands of a boy. He pray, naively, for this country : for the poor, homeless, and disadvantaged people all around Indonesia.
For being a high school student doesn’t stop him to care about others.
.
.
I see Indonesia
in a smile of a someone who gave Rp. 5000 to an old man who came from nowhere, trying to get a little money to get back to his house.
For putting off every stereotype of a stranger, and decided to help him.
.
.
I see Indonesia
in a photograph about disadvantaged people made by one of my lecturer. He post it in his blog.
For caring to minority group when he himself can be categorized as elite-majority group.
.
.
I see Indonesia
in a bright young man who planned to be a teacher.
For choosing to care, while he has every choice in his hands.
.
.
I see Indonesia
in a smile of a mother whose her son got imprisoned because of drug abuse
For the strength to face the problem, while others leave her.
.
.
I see Indonesia
in my mother’s eyes
For raising a son, with help from no one.
And for nothing that can make her bitter. Not storm. Not riot. Not disappointment.
.
.
Thats what Indonesia means to me.
For every 1000 things to hate, there 1001 things to love about this land.
Apakah demokrasi itu? Tanyakan kepada mahasiswa, maka ia akan menjawab betapa itu penting, esensial, dan fundamental bagi keberlangsungan sebuah negara. Ia, kemungkinan besar, akan mengkutip Voltaire, JJ Rousseau, atau bahkan Descartes [jika ia sok tahu]. Ia akan bicara tentang betapa kuatnya pengaruh demokrasi pada penciptaan iklim bernegara yang bebas, pers yang independen dan berfungsi sebagai watchdog pemerintahan, dan sebagainya. Bersyukurlah jika ia bukan mahasiswa idealis yang suka berdemo, atau kau akan diajak bicara berjam-jam.
Tanyakan kepada salah satu orang di jalan, di bis, atau siapapun yang kamu pilih secara acak. Kemungkinan besar kamu akan mendapat jawaban : pemilu. Demokrasi adalah pemilu. Pemilu adalah demokrasi.
Tanyakan kepada politisi. Kemungkinan, pertama, ia akan balik bertanya, kamu dari media mana. Jika kamu bukan orang media, ia tidak akan menjawab kamu karena waktunya terlalu berharga. Daripada menjawabmu, lebih baik ia berkampanye untuk merebut jabatan yang diimpikannya siang-malam. Tetapi kalau kamu dari media, kamu akan dijadikan alat kampanyenya. Dia akan menyembur-nyembur tentang betapa demokrasi penting bagi rakyat kecil, dan bahwa ia adalah agen pembaharu masyarakat.
Tetapi jangan lupa, tanyakan juga pada orang-orang yang dikotak-kotakkan secara statistik sebagai “orang kecil”. Dan siap-siaplah menemukan jawaban jujur bahwa demokrasi adalah alat penguasa untuk tetap berkuasa. Bahwa esensi kebebasan berpendapat hanya akan menuntun kepada kekuasaan mayoritas. Dan di dunia dimana mayoritas berkuasa, minoritas hanyalah kutu. Tidak ada tempat bagi kutu.
Dapatkan jawaban dari orang minoritas, bahwa para mayoritas terlahir dengan bawaan untuk memakan sesamanya. Bahwa perbedaan adalah alasan untuk membunuh, dan hak asasi manusia adalah ee.
Dapatkan jawaban dari para minoritas, bahwa kaum mayoritas adalah para kanibal yang tidak pernah berhenti lapar.
Pada akhirnya, dapatkanlah jawaban dari semua orang, bahwa di dunia yang penuh demokrasi ini, hati nurani adalah sebuah minoritas. Dan didalam demokrasi, tidak ada tempat bagi minoritas.
by Reney Lendy Mosal
Media is powerful. It needs no weapon, guns, or bamboo sticks to make, or to keep its power. Media itself has the power. It delivers idea to a massive number of people, at the same time. It shapes our perception of reality. Yes, indeed, it reports the fact to the people. But it has the power to choose what part of the fact, and how it reported. It has the power to choose, what should be reported, and what shouldn’t. Mass media, has the privilege of being a gatekeeper of information, and thus, controls public opinion. Bernard Cohen once said, “the press may not be successful much of the time in telling people what to think, but it stunningly successful in telling its readers what to think about”. In other words, press maybe have less control in affecting people’s interest to an issue, but it has strong control in affecting how an issue being perceived. For instance, press has less control to public attention; whether to the jubilation of EURO 2008, the tension of conflict related to FPI, or Obama’s strategy in the presidential campaign. But, it able to constructs people’s opinion on those issues.
This kind of power can be used by media-owners regarding KPU’s decision to remove penalty to printed media that published content that can be defined as campaign during the election period. KPU’s decision is contrary to the existing regulation in UU 10/2008. Article 99 detailed what penalty should press’ get if not abide the regulation stated in Article 97 UU 10/2008. In Article 97 stated “Printed media give a just and fair time period and pages to publish news, interview and commercial related to the campaign of the election participants”. By removing the entire penalty, we are letting media to be used.
Actually, by making a clear regulation, KPU guarantee printed media to be fair in giving their spots to various political party, or candidate. This regulation secure media independency from being intervened by media owners. Ideally, newsroom should be free from any conflict of interest, especially from being used as a tool for politicians to gain support from people..
But the decision to remove the entire penalty to printed media, risks media independency just right in time: when this nation held the election. During campaign period, media became a strategic tool for politician, especially those who at the same time, owns a media. Newsroom became an object to be intervened by media owner. Objectivity of the media owner is, however, difficult to maintained, because of the high pressure of political interests.
Maybe one of the considerations is that constitution about election ( UU 10/2008 ) should not against constitution about press. In the constitution about press, stated clearly that there are no more press’ confiscation, meanwhile, in UU 10/2008, one of the penalty is the confiscation. In this case, I agree that the law about election should not against the law of the press (lex specialis). But in other hand, I don’t agree if KPU remove the entire penalty in Article 99 of UU 10/2008. This is, once more, risks media independency. We still need penalty to secure balanced publication, especially during presidential campaign period. Removal of confiscation penalty is acceptable, but removal the entire penalty is not acceptable.
Finally, allow me as the media consumer in Indonesia raise the question: why do KPU decide to remove penalty to printed media that published content that can be defined as campaign during the election period?. What moral, ethic, or law arguments that KPU can give? Did I miss something? Hopefully.
I hope I do miss something. I hope what I miss is a reason of “prima faci”. Prima faci is : a principle of moral and ethic is valid until there’s no greater moral-ethic arguments that contrary to that. In a simple words prima faci means, “for greater good”. I this case, I really hope that KPU’s decision is based on “for greater good”. Let’s think that there may be something better that we all gain by allowing media to be used as a tool for media barons in Indonesia.
Aku datang ke warung itu saat bulan sudah bersiaga menggantikan matahari. Sebuah warung biasa, kecil, dan agak kurang terawat. Aku kesana ingin membeli minuman. Hanya itu saja.
Tetapi alam mengajakku merenung sebentar saat dia menyambutku di warung. Namanya Olis, salah satu sahabat masa kecilku. Dia berbeda denganku dalam banyak hal : dia Islam, dan Betawi. Tetapi, dia sama denganku dalam hal sama-sama anak tunggal. Kami, sama-sama tumpuan keluarga kami. Kami dulu bermain bersama. Main bola. Grup kami cukup disegani. RT kami sempat juara dua dalam kejuaraan se-RW dalam kompetisi tujuh belasan di komplek kami. Sederhana, mungkin, tetapi cukup untuk membuat kami merasa dekat. Belum lagi kebiasaan kami bermain Playstation bersama di rumahku.
Tetapi, mungkin, sang Nasib, ingin mengajarinya hal yang lain dengan yang diajarkan padaku. Pada usia SMA, Olis suka berperilaku ganji. Tengah malam, dia suka berteriak-teriak melintasi jalan komplek kami. Dia juga suka menagngis, dan tertawa tanpa ada satupun yang mengetahui sebabnya. Kadang, dia pergi sendirian tak jelas arahnya.
Ah, seandainya keadilan ada di muka bumi ini. Tetapi, keadilan, kadang bersembunyi, di tempat dimana hati nurani pun tidak dapat menemukannya. Warung itupun seperti menggambarkan harapan kedua orangtua Olis. Barang-barang tidak lengkap, dan ditata seadanya. pembelinya pun hanya warga sekitar yang mencari kerupuk, makanan kecil yang tidak bergizi, margarin, dan minuman.
Dan di warung itulah, dua orang yang dipermainkan oleh sang Nasib pun saling menyapa.
“Reney” kata Olis
“Oi…” jawabku
dan akupun membeli minuman.
“Besok main yuk” Olis mengajak sambil tersenyum lebar
“Iya, mudah-mudahan” jawabku



Recent comments