You are currently browsing the monthly archive for July, 2008.
Dunia penuh dengan konflik kepentingan, kan? Dan akar dari semuanya mungkin adalah ini: uang.
Perang, bagi sebagian orang naif adalah perjuangan mempertahankan idealisme, kepercayaan, dan merebut keadilan. Sementara bagi sebagian orang lain adalah ceruk pasar bagi industri senjata.
Media, bagi sebagian orang naif adalah alat untuk mencerdaskan masyarakat, untuk memberitakan fakta, dan membela kaum tersingkir. Sementara bagi sebagian orang lain adalah alat untuk merebut simpati demi jabatan, adalah alat untuk menyembunyikan fakta demi stabilitas, dan alat untuk memperoleh uang dari rating dan oplah.
Dan semuanya tidak dapat dilawan. Uang, adalah kepentingan. Adalah kekuatan. Adalah kesempatan.
Uang berarti ini: pilihan. Memilikinya berarti membuka pintu-pintu kesempatan.
Jadi, pilihan ada ditangan kita. Ayo cari uang sebanyak-banyaknya, dengan cara sejujur-jujurnya. Tabung. Jadilah kaya. Lalu, dengan semua kemampuan itu, hambur-hamburkanlah untuk ini: membangun rumah sakit gratis, membangun sekolah bagus yang murah, atau apapun itu, yang bermanfaat.
Uang hanya alat. Tujuan akhirnya adalah pilihan kita, kan?
A wise man should have money in his head, but not in his heart
- Jonathan Swift, Irish essayist, novelist, & satirist (1667 – 1745) -
Ini tentang hati. Dan setiap hati mengenal jeritannya masing-masing. Hati mengerang-erang kesakitan sendirian. Dan siapakah yang bisa melihatnya? Karena setiap kali kita membukanya, menyentuh, dan membelainya, hati akan larut dalam kecanduan. Dan usaha untuk menghentikan kecanduan ini, adalah sebuah euthanasia, pembunuhan dengan sengaja. Terhadap diri sendiri.
Lupakan masyarakat. Lupakan visi. Lupakan tujuan dan tenggat waktu. Hati belum siap untuk semua itu. Ia masih berjongkok di sudut ruangan gelap, sambil berharap bahwa: sekali ini saja, saraf-saraf ingatan di otak menghapus semua memori-memori itu.
Akan ada saatnya ketika ia berdiri tegak, mengatasi masalah dengan berani. Akan ada saatnya ketika ia tegak menatap mata musuh, dan membuatnya ciut. Akan ada saatnya komitmen dibangun, kerja keras dilakukan, kejujuran dipertahankan. Akan ada saatnya.
Tapi bukan sekarang.
Sekarang, biarkan ia tergeletak tak berdaya. Sendiri, dan tetap sendiri.
ku akan menjagamu
di bangun dan tidurmu
di semua mimpi dan nyatamu
ku akan menjagamu
tuk hidup dan matiku
tak ingin… tak ingin kau rapuh…
Nyanyian dua pengamen berusia SD itu jauh dari bagus. Biasanya pengamen bersuara bagus, tetapi tidak kali ini. Satu fals, dan satu lagi sumbang. Demikianlah kaka beradik itu cocok satu sama lain.
Suara mereka sesekali tertelan bunyi gitarnya sendiri yang kadang berbunyi seperti nyanyian tokoh “Giant” dalam Doraemon. Belum lagi bisingnya bus metromini ibukota.
Namun, dengan kesederhanaan seperti itulah, ingatanku terbawa kepada seseorang. Namanya Indra. Dia sahabat terdekat, sekaligus saudara sepupuku. Dia sekarang berusia SMA. Kami dulu seperti Mario dan Luigi dalam Mario Bros: berpetualang bersama dalam dunia imajinasi kami yang tiada henti berubah, memperbarui dan memperkaya kami dengan penaklukan-penaklukan. Ya, penaklukan di dalam kertas-kertas gambar yang suka kami habiskan berlembar-lembar, penaklukan di layar video games, dan penaklukan di lapangan sepakbola.
Suatu hari kami bahkan kesetrum bersama. Begitu kuatnya daya listrik itu, sehingga kami terpental. Aku merangkak-rangkak dengan sisa tenaga, untuk mencari pertologan, sementara dia sudah tergeletak lemas. Untunglah setelah itu semuanya baik-baik saja.
Tapi itu semua masa lalu.
Sekarang, dia kerepotan menangani derasnya pengaruh buruk pergaulan di ibukota. Dan semuanya tampak tidak pernah sama lagi. Bolos sekolah, dikeluarkan, pergi dari rumah, hingga sempat dipenjara. Masa remaja memang sulit diduga.
Kabar terakhir, ia memutuskan mengambil Paket C dengan biaya sendiri. Sekarang ia bekerja sebagai pembuat tenda. Seadainya kamu tahu betapa kabar ini menjadi kejutan luar biasa bagi ibunya, yang sempat menunggui dia dipenjara, dan mengetahui apa saja perlakuan buruk polisi terhadap para napi, dan semua kebusukan-kebusukan lainnya disana.
Nanti, aku mau main lagi bersamanya. Pasti. Seperti nyanyian dua pengamen diatas.
Dan nyanyia itupun selesai sudah. Kedua pengamen berusia SD tersebut turun dari bis setelah menyebarkan kantong untuk menampung uang.
“Jangan lompat, awas jatoh” Si kondektur berteriak lantang kepada yang kecil.
“Ah biarin bang, jatoh kebawah ini” Si kecil berteriak.
Dan keduanya melompat dari bis, mencari bis lain untuk dilompati lagi setelahnya, sambil ditemani gitar bersuara Giant “Doraemon”.
Sebuah keberuntungan besar dan sebuah kemalangan luar biasa bagi kita, manusia, untuk mengetahui bahwa segala sesuatu, apapun itu, selalu mempunyai sisi lain. Minimal, dua sisi. Maksimal, entahlah. Judul tulisan inipun disesuaikan dengan ide dasarnya. Lihatlah, kawan, judul ini tertulis simetris. Ada “kanan” ada “kiri”. Ada “ini” dan ada “itu”.
“Ini” adalah sudut pandang yang akrab dengan kita, dan “itu” adalah yang ditentukan oleh Sang Nasib, untuk menjadi kurang akrab dengan kita. Sayangnya, “ini” tidak selalu lebih baik daripada “itu”. Pun sebaliknya berlaku.
Segala hal, bahkan yang paling populis sekalipun, selalu mempunyai sisi lain. “Kebersihan” misalnya. Ia adalah idaman semua orang. Lingkungan yang bersih adalah tujuan setiap masyarakat. Tetapi, tidak demikian dengan pemulung, tukang sampah, dan peminta-minta. Mereka ini, mungkin, menjadi pihak yang tidak bersukacita akan kebersihan. Karena, lingkungan bersih berarti kurangnya makanan sisa yang bisa didapat. Kurangnya barang-barang bekas yang bisa dicari. Dan lebih dari itu, lingkungan yang bersih berarti suasana alienasi bagi para kaum terpinggirkan. Sebuah pengusiran yang sempurna: diam-diam, tetapi ampuh, dan disaat yang sama menjaga pengusirnya tetap dipandang “bermartabat”.
Itulah. Tidak ada yang lepas dari berkat dan kutukan “sisi lain”. Si Gemini, ternyata bukan hanya hidup di mitos-mitos kuno, tetapi juga bersembunyi diantara realita kehidupan sehari-hari.
Dan sadarkah kita, bahwa semua yang “ini” dan semua yang “itu” terbentuk dalam kepala kita tanpa sekalipun kesempatan bagi kita untuk memilih? Sang Nasib telah begitu rupa menentukan kita: identitas kita, media kita, orangtua kita, status sosial kita dan jutaan hal lain. Segala sesuatu yang kita sebut sebagai “kehendak bebas” seringkali hanyalah sebuah pilihan kecil diantara jutaan bukan-pilihan yang terbentang didepan kita.
Apakah kita dapat mengontrol sikap kita/ respon kita terhadap sesuatu? Mungkin bisa
Apakah kita bisa mengontrol media kita, yang mempengaruhi sikap kita? Secara terbatas, bisa.
Apakah kita bisa mengontrol sikap orangtua, baik dalam membesarkan kita, maupun dalam memberi teladan? Hampir tidak bisa
Apakah kita bisa mengontrol kondisi ekonomi perusahaan/ masyarakat tempat orangtua kita mencari nafkah sehingga mempengaruhi kebahagiaannya, sehingga mempengaruhi sikapnya pada kita?
Tidak bisa.
Dan masih jutaan pilihan-pilihan lain yang tidak dapat kita kontrol…
Dan inipun belum termasuk di keluarga apa kita dilahirkan…warna kulit apakah kita…dan sebagainya
Siapakah kita, kawan, selain dari mainan-mainan kecil yang berlari-lari tidak tentu arah kesana-kemari?
. . . and the basic absurdity of the human situation must be recognized and accepted . . . life is just a series of absurd waiting periods . . . man always dies before he is fully born…
-dedynhidayat.blogspot.com-
Ide, adalah si sombong yang angkuh. Ia datang dan pergi sekehendak hatinya. Persis seperti angin, yang tidak pernah minta ijin jika hendak menampakkan diri, dan tidak pernah mengucapkan selamat tinggal jika hendak berganti tujuan. Bagi mereka berdua, tidak ada batasan. Hati semua manusia adalah kuburan terbuka bagi Ide, dan semua sudut dunia adalah pintu yang tidak pernah tertutup bagi angin.
Bagi banyak orang, Ide begitu nyata, dan sangat tidak nyata. Semua membahasnya. Semua tahu kehebatannya. Tetapi semua sepakat akan suatu hal: bahwa tidak seorangpun mempunyai sebuah cara yang pasti untuk menemuinya.
Ide, berbeda dengan sang pelacur tua bernama uang. Uang tidak pernah memilih-milih dengan siapa dirinya bertemu. Ia adalah kawan baik semua orang. Ia selalu siap memberikan apapun yang kamu mau. Kapanpun. Dimanapun. Asal kamu mampu memberikan apa yang dia inginkan. Tetapi, kawan, uang lebih bijaksana dibandingkan Ide. Uang tahu semua keburukan manusia.
Uang tahu, bahwa dia digunakan seorang agamawan, untuk membayar pelacur, atau membayar sepasukan tentara untuk membunuh. Ia tahu, bahwa kadang, keputusan penting didalam pemerintahan yang terkait dengan hajat hidup orang banyak, harus dibeli dengan uang. Ia juga tahu, bahwa kadang, diantara degil dan kikirnya manusia, masih ada beberapa orang yang menggunakan dirinya untuk mengatakan sebuah pesan, bahwa dunia belum kehabisan orang baik.
Semua pengetahuan ini, tidak dimiliki Ide. Tetapi jangan salah. Ide jauh lebih menggairahkan. Ide mempesona semua orang, dan membuat orang mabuk kepayang akan godaan tarian-tariannya yang mengundang hasrat. Ia mampu membuat dirimu bergairah. Ia menggerakkan sendi-sendi dalam tubuhmu, kepalamu, dan disaat yang sama, menggelitik hatimu dan membolak-balik kepalamu. Satu Ide besar, dapat meledakkan orang-orang disekelilingmu, membuat mereka tertawa kagum dalam hati, atau menggila dibalik datarnya tatapan muka dan bibir sinis orang-orang.
———————————————————————————
Sudah lama aku berkawan dengan si pelacur tua bernama uang. Ah, dan lihat, dia begitu setia menemani…. jika kamu punya yang dia mau.
Tetapi, belum lama ini, si angkuh tua bernama Ide datang. Seperti biasa, tidak diundang. Sejak bumi dibentuk oleh Yang Maha Kuasa, Ide tidak pernah diundang untuk datang. Ia, punya kekuasaannya sendiri. Sebuah hak prerogatif yang mengagumkan.
Ide ini, datang didalam sebuah pembicaraan omong kosong dengan dua sahabat hebat yang jauh dari omong kosong. Sebuah omong kosong yang menyediakan tempat bagi berlabuhnya Ide. Bagaimanapun, elang tidak akan datang ke sangkar yang berisi, bukan?
Bermula dari sedikit ini dan sedikit itu. Dan didalam ruang-ruang ciptaan Tim Berners Lee itulah, Sang Ide berkenan menunjukkan dirinya kepada tiga orang ini-salah satunya aku.
Kini, biarkan Ide itu tumbuh besar. Sebuah ciptaan, yang pada akhirnya akan membuat kami tercipta kembali. Dan pada saatnya nanti, biarkan Kata-Kata Digital yang menceritakannya padamu. Dan bersiaplah untuk merasakan gairah dan tarian-tarian menggoda darinya, dari Ide.
2 Juli 2008, 6.50 pagi
Matahari cerah. Udara begitu menyegarkan. Dunia terasa tersenyum menyapa ramah. Alam memeluk begitu mesra, seolah menghilangkan kesepian didalam hati.
Setidaknya sampai aku membuka Koran Tempo edisi online hari ini. Satu lagi anggota dewan tertangkap tangan membawa uang dalam jumlah besar. Bukti-bukti dan beberapa informasi cukup untuk mengaitkan dia kepada satu dugaan: suap.
Ada apa ini? Satu lagi setelah Al-Amin Nasution (PPP), Hamka Yandhu dan Antony Z. Abidin (keduanya dari Partai Golkar), Noor Adenan Razak (PAN), serta Sarjan Taher (Partai Demokrat). Satu dari sebuah jumlah yang masif, terencana dan tersistem rapi, terbungkus dengan manis didalam sebuah gedung dengan desain mirip dada perempuan: Gedung MPR DPR.
Korupsi, suap, nepotisme, dan sebagainya, adalah kejahatan tak manusiawi. Dengan uang yang sama, seorang anak di Papua dapat disekolahkan. Dengan uang yang sama, beasiswa dapat diberikan kepada, misalnya, anak seorang buruh tambang yang pintar luar biasa. Uang yang sama, dapat merubah masa depan orang lain. Merubah masa depan orang lain berarti merubah dunia. Ingatkah kita bahwa kemiskinan merupakan lingkaran setan? Kemiskinan > ketiadaan pendidikan > kekurangan sarana kebersihan > ketidakmampuan mendapat pekerjaan yang baik > kemiskinan.
Oke, mungkin lingkaran setannya tidak mirip seperti itu, tetapi, ya sudahlah.
Semoga satu per satu anggota dewan yang melakukan penyimpangan apapun tertangkap. Dan marilah kita berdoa, supaya gedung itu tidak akan kosong nantinya karena semua anggota dewan masuk penjara. Bagaimanapun juga, kita butuh anggota dewan untuk ditertawakan habis-habisan, diinjak-injak, dimaki, digugat, dan diselidiki. Walaupun semua itu hanya dalam ruang-ruang imajinasi kita.
“Its just wind, it blows everywhere…“
- Dave Spitzer, karakter utama film “Weather Man”
Dave Spitzer adalah seorang pembawa acara ramalan cuaca di sebuah stasiun TV di kotanya. Ia bergaji ratusan ribu dollar per tahun, plus dikenal semua orang di kota itu. Tapi, Dave merasa pekerjaan itu sebuah kebohongan besar. Tak ada yang tahu, bahwa peramal cuaca hanyalah boneka cuap-cuap didepan kamera yang menunjuk-nunjuk ke layar biru dengan akurasi letak tangan. Itu saja. Bukan akurasi prediksi cuaca. Karena bagaimanapun, seperti yang dikatakannya, dan pada akhirnya menjadi kutipan terkenal dari film medioker ini: “Its just wind, it blows everywhere“.
Semua profesional pasti mengetahui kebohongan besar yang terkait di bidangnya. Akbar Tanjung, dalam sebuah wawancara di harian nasional mengatakan: “dalam politik, tidak ada sahabat, yang ada hanyalah kepentingan“. Semakin seseorang mengenal bidangnya, semakin ia melihat dengan jelas semua kelemahan-kelemahan yang ada di bidangnya. Seorang pekerja humas, sesungguhnya adalah pembohong. Ingat, semboyan suci mereka adalah “tell the truth, but not the whole truth“. Dan siapakah yang menjadi sahabat sejati para pekerja humas? Pastilah bukan para jurnalis, karena mereka adalah budak-budak yang akan menarik mereka menuju anak tangga karir berikutnya.
Semua profesi, mempunyai boroknya masing-masing. Tepat seperti Dave “Weather Man” Spitzer. Bahkan badutpun lebih jujur daripada pembawa acara ramalan cuaca. Setidaknya badut tidak terlihat-pintar-padahal-tidak-tahu-apa-apa.
Tapi, mungkin demikianlah seharusnya. Seseorang yang semakin jelas melihat borok pada bidang yang ditekuninya, berarti sudah melihat realita. Dan segala sesuatu yang berhubungan dengan realita adalah sehat. Apalagi bagi seorang jurnalis.
Kamu tidak akan merasakan bahwa kamu semakin hebat. Tidak ada yang berubah. Tulisanmu mungkin tidak akan mengguncangkan rezim, menumbangkan diktator, menggali kebenaran yang tersembunyi. Kamu mungkin tidak akan membongkar kasus kejahatan lingkungan terkenal, tidak menemukan barang bukti menuju sebuah kasus korupsi terbesar dalam sejarah, atau menyeret seorang anggota dewan karena sebuah skandal tersembunyi.
Tetapi, semua akan terjadi begitu saja. Satu per satu orang datang dan memuji tulisanmu. Orang akan datang dan pergi, dan kamu akan tahu siapa yang patut dipercaya, dan siapa yang tidak.
Pemerintahan tidak akan pernah benar, begitupun pejabat. Begitupun sarana transportasi. Begitupun harga-harga barang. Begitupun koneksi internet.
Tetapi, hak istimewa bagi seorang pewarta kebenaran adalah sudut pandang yang jernih, dan banyak. Dan itu berarti pilihan. Pilihan terhadap kata-kata. Pilihan terhadap sudut pandang penulisan. Pilihan terhadap ide-ide apa yang akan disampaikan. Itulah hak istimewa seorang jurnalis. Dia dapat memilih apapun untuk dikatakan. Tidak ada yang rahasia bagi jurnalis. Itulah yang diberikan iblis bernama “ketidakadilan”… kepada para jurnalis. Persis seperti yang dikatakan seorang sahabat: ketidaktahuan adalah anugerah.







Recent comments