You are currently browsing the daily archive for July 4th, 2009.
Dalam sebuah acara kampanye presiden di televisi berbentuk talkshow antara salah satu calon presiden dengan pemirsa di studio, saya menjadi teringat dengan salah satu hal yang paling dasar sebagai warga negara Indonesia:
identitas ke-Indonesia-an itu sendiri.
Salah satu pemirsa acara itu bertanya:
“Ibu Mega, teman-teman saya banyak yang memilih tinggal diluar negeri. Mereka beralasan tinggal di negara lain seperti Australia itu lebih damai, stabil, dan sebagainya. Bagaimana menurut ibu?”
Dan Ibu Mega, kalau tidak salah menjawab seperti ini:
“Yah itu kan mereka. Kalau diluar negeri kita kan tidak dapat melakukan hal-hal yang seperti ada di Indonesia. Bagaimana kalau nanti sore-sore kita pingin makan bakso? Kan disana tidak ada yang jual bakso.”
[mungkin detailnya salah, tapi yang jelas, kata kunci dan ide utama dari perkataan ibu Mega saat itu adalah "bakso"]
Salahkah pendapat Ibu Mega? Tentu saja tidak. Itu adalah konstruksi ke-Indonesia-an dari Ibu Megawati Soekarnoputri, anak salah satu founding fathers Indonesia. Dan siapapun juga, termasuk anak salah seorang founding fathers berhak untuk mendefinisikan keunikan Indonesia serta keseluruhan identitas ke-Indonesia-an sebagai “negeri yang disitu banyak baksonya”.
[saya jadi ingat, dulu bangsa Israel dijanjikan oleh Yahweh, negeri Kanaan yang "banyak susu dan madunya" untuk menunjukkan kesuburan tanah Kanaan. Tetapi bakso? Saya tidak yakin itu bermakna "subur"]
Didalam kepala saya sendiri, saya menggambarkan adegan itu dalam versi lain. Begini ceritanya:
Ibu Mega, mendengar pertanyaan itu terlihat kaget dan berpikir sebentar. Lalu dia berkata:
“Wah, ini pertanyaan bagus sekali. Bagaimana menurut anda sendiri? Apakah menurut anda Indonesia merupakan negara yang tidak aman, tidak damai, dan tidak menyenangkan untuk ditinggali sampai tua?”
Orang itu terdiam. Dia tidak siap ditanya balik oleh anak salah satu founding fathers Indonesia.
Lalu Ibu Mega menjawab lagi:
“Saya sendiri kehabisan kata-kata untuk menjelaskan mengapa Indonesia dapat menjadi alasan bagi kita untuk tinggal sampai tua nanti. Tapi menurut saya, seperti kata-kata sebuah lagu;
disana tempat lahir beta
dibuai, dibesarkan bunda
tempat berlindung dihari tua
sampai akhir menutup mata
Indonesia adalah tempat saya lahir. Inilah tempat yang melalui proses sejarah, dinamika sosial politik, relasi antar negara, konstruksi media, serta perasaan kesamaan antar orang-orang dari Merauke sampai Sabang, dari Miangas sampai Rote, yang bersama-sama menyebut diri mereka ‘orang Indonesia’. Kenapa saya memutuskan tinggal di Indonesia sampai mati? Karena saya sayang negara ini, melebihi kemampuan saya menjelaskannya.”
…
[Saya mungkin perlu berhenti berimajinasi]
Like father like son. Bukan begitu?
Tapi entah kenapa, saya merasa berbeda dengan papa saya. Papa saya fasih pakai Doc Martens, jaket Valentino, dan kaus Zara Man.
Sedangkan saya sudah merasa nyaman dengan kaus yang beli di Carrefour, kemeja yang dibeli di Tanah Abang, sepatu sneakers yang itu-itu saja, dan celana panjang bermerek Carvil (bukannya itu merek sendal??).
Saya buruk dalam fashion.
Dan saya jelas perlu perbaikan. Jadi begini… saya kemarin baru menonton He’s Just Not That Into You, dan sepertinya itu memberikan gambaran tentang bagaimana seharusnya orang berusia duapuluh dan tigapuluhan berpakaian.
Jadi, kemungkinan begini cara saya berpakaian:
Atasan : kemeja lengan panjang. Warnanya putih, abu-abu, biru muda, atau marun. Menurut saya, kemeja warna hitam itu bisa berdampak pada kehancuran mood. Untuk kemeja, saya mungkin pakai Hammer atau Valino. Tapi ya jelas, gaji saya akan hanya bersisa untuk beli bensin kalau semua kemeja saya dari Hammer atau Valino. Jadi, dua pertiga kemeja saya akan dibeli di Tanah Abang atau Mangga Dua saja. Selain itu, bolehlah pakai Poshboy sesekali. Saya suka sekali Poshboy. Tetapi yang jelas, TIDAK baju-baju bermotif distro. Itu bukan saya. Kalau anda melihat saya memakai kaus bermotif distro, mungkin anda salah. Hehehe.
Bawahan: saya tidak akan pernah memakai celana bahan. Saya tidak suka celana bahan. Alternatifnya untuk tetap terlihat rapi, mungkin, jins hitam yang agak ‘cling’. Tau kan ‘cling’? Itu…. Jenis bahan jins yang cocok untuk acara formal malam hari. Warna yang cocok itu mungkin hitam atau biru muda. Abu-abu atau coklat juga sepertinya bagus.
Sepatu: Tergantung acaranya sih ya. Tapi kalau bukan sneakers, ya mungkin pantofel. Tapi saya ingin punya satu sepatu boot. Papa saya sih sembilan dari sepuluh sepatunya itu jenisnya boot.
Lalu, saya jelas tidak akan pakai jam. Saya kurang suka pakai jam. Kacamata? Bolehlah. Lagipula mata saya minus. Tapi pastinya, saya tidak akan pakai lensa kontak. Lensa kontak itu agak gayish.
Bagaimana? Apakah gaya seperti ini sudah bisa disebut sebagai sebuah perbaikan?



Recent comments