Dalam sebuah acara kampanye presiden di televisi berbentuk talkshow antara salah satu calon presiden dengan pemirsa di studio, saya menjadi teringat dengan salah satu hal yang paling dasar sebagai warga negara Indonesia:
identitas ke-Indonesia-an itu sendiri.
Salah satu pemirsa acara itu bertanya:
“Ibu Mega, teman-teman saya banyak yang memilih tinggal diluar negeri. Mereka beralasan tinggal di negara lain seperti Australia itu lebih damai, stabil, dan sebagainya. Bagaimana menurut ibu?”
Dan Ibu Mega, kalau tidak salah menjawab seperti ini:
“Yah itu kan mereka. Kalau diluar negeri kita kan tidak dapat melakukan hal-hal yang seperti ada di Indonesia. Bagaimana kalau nanti sore-sore kita pingin makan bakso? Kan disana tidak ada yang jual bakso.”
[mungkin detailnya salah, tapi yang jelas, kata kunci dan ide utama dari perkataan ibu Mega saat itu adalah "bakso"]
Salahkah pendapat Ibu Mega? Tentu saja tidak. Itu adalah konstruksi ke-Indonesia-an dari Ibu Megawati Soekarnoputri, anak salah satu founding fathers Indonesia. Dan siapapun juga, termasuk anak salah seorang founding fathers berhak untuk mendefinisikan keunikan Indonesia serta keseluruhan identitas ke-Indonesia-an sebagai “negeri yang disitu banyak baksonya”.
[saya jadi ingat, dulu bangsa Israel dijanjikan oleh Yahweh, negeri Kanaan yang "banyak susu dan madunya" untuk menunjukkan kesuburan tanah Kanaan. Tetapi bakso? Saya tidak yakin itu bermakna "subur"]
Didalam kepala saya sendiri, saya menggambarkan adegan itu dalam versi lain. Begini ceritanya:
Ibu Mega, mendengar pertanyaan itu terlihat kaget dan berpikir sebentar. Lalu dia berkata:
“Wah, ini pertanyaan bagus sekali. Bagaimana menurut anda sendiri? Apakah menurut anda Indonesia merupakan negara yang tidak aman, tidak damai, dan tidak menyenangkan untuk ditinggali sampai tua?”
Orang itu terdiam. Dia tidak siap ditanya balik oleh anak salah satu founding fathers Indonesia.
Lalu Ibu Mega menjawab lagi:
“Saya sendiri kehabisan kata-kata untuk menjelaskan mengapa Indonesia dapat menjadi alasan bagi kita untuk tinggal sampai tua nanti. Tapi menurut saya, seperti kata-kata sebuah lagu;
disana tempat lahir beta
dibuai, dibesarkan bunda
tempat berlindung dihari tua
sampai akhir menutup mata
Indonesia adalah tempat saya lahir. Inilah tempat yang melalui proses sejarah, dinamika sosial politik, relasi antar negara, konstruksi media, serta perasaan kesamaan antar orang-orang dari Merauke sampai Sabang, dari Miangas sampai Rote, yang bersama-sama menyebut diri mereka ‘orang Indonesia’. Kenapa saya memutuskan tinggal di Indonesia sampai mati? Karena saya sayang negara ini, melebihi kemampuan saya menjelaskannya.”
…
[Saya mungkin perlu berhenti berimajinasi]



7 comments
Comments feed for this article
July 4, 2009 at 5:41 pm
inal
HAHAHAHA, lu apply CV buat jadi capres gih ney, situ kan selangkah lebih maju dibanding doi yang belum sarjana,hehehe
eniwe walopun endonesa acak kadul begini gw tetep mao tinggal disini seterusnya. ttkhbs.
July 8, 2009 at 8:31 pm
farhanah
reney, i give you a blog awards! it’s on my blog.. thx for checking it out.. hehee!
July 9, 2009 at 5:45 pm
ninin
ya
gue sebel sama orang2 yg suka protes2 berlebihan sm indonesia
gue dulu pernah mikir, justru di negara kaya gini nih yang bakal menghasilkan org2 yg kuat dan struggle..
July 10, 2009 at 2:35 pm
reney
@ Inal
Hmmm… nanti kalo gue jadi capres, akan ada mahasiswa kritis yang mengkritisi omongan gue di blognya dia…
@Farhannah
Thanks! Gue jadi mau nambah2in link blog deh, soalnya masa link blog temen gue bahkan gak cukup buat ikut awards itu…
@Ninin
setujuuuu!
July 14, 2009 at 3:25 pm
smita
kalau tanggal 8 kemarin ada muka lo di kertas pemilu, mungkin gw ga akan bingung pilih yang mana..hahah
August 11, 2009 at 10:10 pm
resti
nooo don’t stop imagining! HA. ah. u’re just so smart and sharp i feel too scared to even speak a word.
September 27, 2009 at 11:11 am
-dephita-
KEREN bgt kata2 l ney,,,
yes,i agree with ur friends,resti,,
don’t stop imagining!!!