Like father like son. Bukan begitu?

Tapi entah kenapa, saya merasa berbeda dengan papa saya. Papa saya fasih pakai Doc Martens,  jaket Valentino, dan kaus Zara Man.

Sedangkan saya sudah merasa nyaman dengan kaus yang beli di Carrefour, kemeja yang dibeli di Tanah Abang, sepatu sneakers yang itu-itu saja, dan celana panjang bermerek Carvil (bukannya itu merek sendal??).

Saya buruk dalam fashion.

Dan saya jelas perlu perbaikan. Jadi begini… saya kemarin baru menonton He’s Just Not That Into You, dan sepertinya itu memberikan gambaran tentang bagaimana seharusnya orang berusia duapuluh dan tigapuluhan berpakaian.

Jadi, kemungkinan begini cara saya berpakaian:
Atasan : kemeja lengan panjang. Warnanya putih, abu-abu, biru muda, atau marun. Menurut saya, kemeja warna hitam itu bisa berdampak pada kehancuran mood. Untuk kemeja, saya mungkin pakai Hammer atau Valino. Tapi ya jelas, gaji saya akan hanya bersisa untuk beli bensin kalau semua kemeja saya dari Hammer atau Valino. Jadi, dua pertiga kemeja saya akan dibeli di Tanah Abang atau Mangga Dua saja. Selain itu, bolehlah pakai Poshboy sesekali. Saya suka sekali Poshboy. Tetapi yang jelas, TIDAK baju-baju bermotif distro. Itu bukan saya. Kalau anda melihat saya memakai kaus bermotif distro, mungkin anda salah. Hehehe.

Bawahan: saya tidak akan pernah memakai celana bahan. Saya tidak suka celana bahan. Alternatifnya untuk tetap terlihat rapi, mungkin, jins hitam yang agak ‘cling’. Tau kan ‘cling’? Itu…. Jenis bahan jins yang cocok untuk acara formal malam hari. Warna yang cocok itu mungkin hitam atau biru muda. Abu-abu atau coklat juga sepertinya bagus.

Sepatu: Tergantung acaranya sih ya. Tapi kalau bukan sneakers, ya mungkin pantofel. Tapi saya ingin punya satu sepatu boot. Papa saya sih sembilan dari sepuluh sepatunya itu jenisnya boot.

Lalu, saya jelas tidak akan pakai jam. Saya kurang suka pakai jam. Kacamata? Bolehlah. Lagipula mata saya minus. Tapi pastinya, saya tidak akan pakai lensa kontak. Lensa kontak itu agak gayish.

Bagaimana? Apakah gaya seperti ini sudah bisa disebut sebagai sebuah perbaikan?