Ratri Ninditya menulis dengan bagus sekali tentang sistem makna. Dia bilang, sistem makna itu seperti paket makanan di restoran cepat saji. Cukup pesan satu nama paket, kita dapat makanan plus minumannya. Cepat, singkat, jelas.

Tapi manusia, seperti kata Ratri, belum tentu sesederhana itu. Seseorang yang berjilbab seringkali dituntut harus selalu sempurna dalam segala hal. Sekali seseorang yang berjilbab melakukan hal yang dianggap menyimpang, merokok misalnya, maka dia akan mendapat konsekuensi yang lebih berat dari seseorang yang tidak berjilbab. Itu kata Ratri.

Bagaimana dengan saya?
Saya berpikir sebentar, saya itu seperti apa. Mungkin, kalau saya itu makanan, saya akan sulit digolongkan dalam kategori apa. Bayangkan sebuah gado-gado pakai babi panggang, yang ditaruh dalam piring keramik Cina, tapi harus makan pakai pisau dan garpu. Saya mungkin bukan orang yang tepat untuk masuk secara sempurna dan konsisten dalam sistem makna yang ada di kepala orang-orang.

Saya lahir dalam keluarga Menado. Belum apa-apa ini sudah membuat saya dicap negatif. Wajar sih, karena dari semua orang yang saya tahu menikah ekstracepat dibanding yang lain, itu semua melibatkan orang Menado. Stereotipe itu bukan mitos atau takhayul… bukan juga seperti Mr. Bean yang turun dari langit. Stereotipe itu lebih seperti bayi, yang lahir, awalnya kecil… lalu lama-kelamaan membesar. Stereotipe muncul dari fakta-fakta yang konsisten.

Tapi dalam stereotipe selalu ada pengecualian, kan?
Itu juga yang saya doakan selama ini. Saya selalu berdoa bahwa dalam stereotipe memang ada pengecualian. Bahwa saya, sebagai orang Menado bisa jadi seorang pengecualian, biarpun saya melihat jelas bagaimana papa saya sebagai Menado tulen .

Pengecualian?
Itu mungkin harga yang harus dibayar untuk memilih jalan yang tidak dipilih oleh orang-orang di garis keturunan saya. Itu harganya mahal. Tapi saya percaya bahwa selain di Senen dan toko buku loakan, quality comes with price.

Mungkin saya akan terus menjadi gado-gado pakai babi panggang yang diaruh di atas piring keramik Cina yang dimakan pakai pisau dan garpu. Saya terus akan kebingungan masuk dimana. Saya terus akan jadi terlalu pendiam dan baik bagi orang-orang Menado, dan terlalu hura-hura dan santai bagi orang Cina.

Saya hanya berharap, suatu saat, akan ada orang yang bisa menerima sajian seperti ini, sambil berkata:

“ah ini lucu juga ya…”