You are currently browsing the daily archive for July 27th, 2009.
Saya baru saja membaca sebuah artikel di koran tentang peran Twitter menyebarkan informasi saat detik-detik awal terjadinya bom Mega Kuningan, kira-kira satu minggu lalu. Banyak hal menarik yang saya temukan dalam artikel itu.
Pertama, penulis artikel itu menyamakan Twitter dengan jurnalisme. Peran Twitter dalam menyebarkan informasi disetarakan dengan praktek jurnalisme yang selama ini kita kenal. Pada Twitter, informasi disebarkan melalu status updates yang entah kenapa, lebih cepat berubah dari status updates yang ada di Facebook. Hal inilah yang menurut penulis artikel koran tersebut, sangat membantu penggunanya untuk mendapatkan informasi mengenai bom Mega Kuningan. Dia lalu menempelkan berkali-kali “Twitter” dan “jurnalisme”, sehingga abrakadabra! Lahirlah frase baru: Jurnalisme Twitter.

Apakah itu benar?
Perlu diingat bahwa Twitter adalah sebuah situs jejaring sosial. J-e-j-a-r-i-n-g s-o-s-i-a-l.
Twitter bukan media online. B-u-k-a-n m-e-d-i-a o-n-l-i-n-e.
Kenapa saya norak dalam menuliskan karakteristik dasar Twitter ini? Karena fungsi Twitter sebagai situs jejaring sosial benar-benar menjelaskan peran Twitter. Situs ini, lebih seperti tempat bergunjing maha luas. Bayangkan ini sebagai sebuah café besar. Atau forum bebas di sebuah kantin. Atau balai pertemuan. Intinya, ini adalah tempat bersosialisasi di dunia maya. Proses komunikasi yang terbentuk adalah karena relasi, bukan informasi. Kalaulah ada informasi yang disebarkan, maka itu adalah efek yang tidak terhindarkan dari diseminasi informasi. Informasi ikut disebarkan karena adanya nilai berita yang sangat besar:
bom meledak lagi di Mega Kuningan, empat hari sebelum kedatangan MU dan bertepatan dengan penghitungan hasil pemilu presiden.
Topik itu kemudian jadi bahan obrolan [bukan berita] dalam Twitter. Inilah diseminasi informasi.
Situs komunitas sosial: diseminasi informasi
Media online: berita dalam format digital
Diseminasi informasi: informasi + gosip + dugaan + khalayan
Berita dalam format digital: informasi [saja]
Diseminasi informasi: dimensi relasi
Berita dalam format digital: dimensi isi
Kedua, yang menarik dari artikel di koran itu adalah pemakaian bahasa Inggris “Twitter Journalism“. Penulisnya mungkin seorang yang cerdas, modern, dan mampu berbahasa Inggris, tetapi lupa bahwa Twitter adalah nama, dan tidak perlu sama sekali menyesuaikan kata “jurnalisme” menjadi “journalism”. Mungkin ia pernah sesekali membaca frase-frase unik macam “cultural industry“, “yellow journalism” dan sebagainya, sehingga ia berpikir: “Aha! Lucu juga kalau pakai bahasa Inggris”. Atau, ia mungkin berpikir bahwa semua ide yang sudah dirapikan dalam bentuk konsep itu harus dialihbahasakan menjadi bahasa Inggris.
Ah, apa ini yang saya tulis. Mungkin saya lupa bahwa sekarang ini bukan jaman Rosihan Anwar atau Muchtar Lubis. Saya lupa, ini sudah tahun 2009… ini jamannya Manohara dan Cinta Laura. Aih… saya perlu ingat itu baik-baik kalau mau tetap waras di jaman ini.



Recent comments